Selasa, 13 Maret 2012

3. SERUNYA OSPEK

Pada pertengahan bulan September yang tepatnya pada tanggal 20 September 2011, ospek dilaksanalan. Dan pada tanggal 19 September 2011 jam 15.00 WIB kita sebagai Mahasiswa Baru (MABA) kumpul di kampus depan gedung A untuk persiapan ospek pada hari Senin tersebut.
Setelah sampai dikampus, panitia membagikan  kelompok ospek yang telah dipersiapkan. Betapa banyak peserta ospek yang mendaftarkan diri di Universitas tersebut. Suasana rame,  dan banyak sekali bahasa yang beda-beda antara mahasiswa yang satu dengan yang lain. Ada yang menggunakan bahasa Madura, Jawa, NTB, Kalimantan, Sumatra, dan ada juga yang menggunakan bahasa papua. Mereka saling berkenalan untuk memperbanyak teman.
Banyak teman memang penting untuk hidup bermasyarakat, atau biasa dikatakan hidup bersosialisasi. Jika kita tidak ramah terhadap sesama, maka tidak akan ada teman yang akan mendekati kita. Seperti yang telah kita ketahui bahwa ketika kita, membaca surat, ngobrol, enulis, gotog royong, kerja, sekolah dan lain-lain itu semua merupakan hidup bersosialisasi. Kita kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.
Selama bertahun-tahun, bersosialiasi telah berubah sebagian besar berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dahulu kala kiata bertemu berhadapan muka di pub, cafe, pada festival atau acara outing dan dengan mengundang orang lain ke Rumah kita. Namun demikian, kontak berhadapan muka ini telah semakin sering digantikan oleh meninggalkan, mengambil, dan merespon pesan.
Satu-satunya cara untuk mengembalikan vitalitas dalam hidup kita adalah dengan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sehingga kita dapat menciptakan keadaan sosial yang lebih baik dan memupuk persahabatan yang baru dan lama. Ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.


Cara  terbaik untuk mulai bertemu orang baru adalah melalui orang-orang yang sudah kita kenal, teman kita, keluarga kita, rekan kerja. Memulai bersosialisasi dengan orang-orang yang dekat dengan rumah kita, meningkatkan peluang kita untuk bertemu orang-orang yang berbagi nilai-nilai sosial yang sama.(Sa’ad Lukman).
Inilah suatu saat didalam hidup kita untuk memprioritaskan bersosialisasi, mengubahnya menjadi suatu kebiasaan dan menjadi mahir melakukannya. Sisihkanlah waktu-waktu tertentu untuk menemui orang-orang, teman kita atau kerabat kita. Salah satu contoh adalah, mengajak sesorang kenalan untuk minum kopi, di luar atau menjamu teman-teman di rumah. Bergabunglah dengan suatu komunitas masyarakat atau organisasi. Undang teman-teman ke suatu pertandingan olahraga, taman musium, konser, atau festival, dan mengusulkan agar mereka membawa teman-teman mereka juga. Maka dengan cara demikian, jumlah orang yang kita kenal akan meningkat dramatis dan kita juga akan bertambah senang. 
Banyak ilmu memang penting untuk menjadikan kita menjadi lebih sukses  akan tetapi, lebih penting jika kita menyeimbangi ilmu kita yang kita punya dengan memperbanyak teman dalam artian hidup bersosialisasi. Dan ada yang mengatakan semakin banyak teman maka kita akan semakin banyak ilmu yang didapat. Mengapa demikian?, ini semua karena teman merupakan salah satu sumber ilmu untuk kita dapatkan, sebab setiap individu mempunyai cerita dan pengalaman yang beda-beda antara individu yang satu dengan yang lain. Dari pengalaman tersebut pastilah terdapat ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita untuk masa depan supaya lebih baik untuk masa depan yang akan datang.
Kita berkenalan dengan teman yang baru sangalah sulit, tapi jika kita tidak berkenalan maka selamanya kita tidak akan mempunyai teman dan tetap hidup sendiri. Seperti yag kita ketahui bahwa jika kita tidak mempunyai teman maka rasanya sangatlah hampa. Sebab, tidak mungkin kita menjalani hidup dengan sendiri. Lagi pula kita hidup di msyarakat bukan di hutan dan sudah semestinya kita harus menjalin hubungan yang baik antara individu yang satu dengan yang lain.

 Aku membuang semua perasaan yang membuat Aku takut untuk berkenalan. Bagiku semua individu sama hanya ada sedikit perbedaan yang membuat kita ada perbedaan. Mungkin, yang beda hanyalah sebuah penampilan saja, tapi. Kebanyakan, yang membuat kita takut untuk berkenalan adalah bedanya cara menampakkan rasa percaya diri kita masing-masing. Jika kita tidak mempunyai rasa pemalu yang berlebihan, maka kita akan biasa-biasa saja untuk menghadapi apapun yang ada didepan mata kita, tapi jika kita mempunyai rasa mental yang sangat minim jangankan berkenlan sama orang yang tidak kita kenal melihat saj kita sudah pasti takut untuk melihat.
Setelah semua urusan selesai di kampus, Aku langsung pulang ke kosan yang sangat Aku sukai suasananya. Sesampai di kosan, bukan istirahat yang Aku dapatkan, tapi sibuk yang sangat luar biasa yang menghadang didepan mataku. Pertama Aku bingung bagaimana cara mengatasi semua masalah ini yang banyak sekali, karena Aku baru pertama kalinya mendapat tugas untuk membuat sesuatu yang baru dan sangat sulit untuk dibuat.
Berdasarkan pengumuman yang telah disampaikan tadi, setelah ba’dah maghrib kita sebagai Mahasiswa Baru harus kumpul di kampus untuk persiapan besok waktu ospek. Sebenarnya kita tidak apa-apa jika tidak mau kumpul ke kampus asalkan tugas yang disuruh oleh panitia harus selesai dengan perintah tanpa ada satupun kesalahan yang dibuat. Maka dari itu,  untuk menghindari dari semua kesalahan-kesalahan yang mungkin saja terjadi, kita harus datang ke kampus untuk mempersiapkan semuanya yang dibutuhkan untuk besok waktu ospek.
Waktu kumpul di kampus cuaca sangat dingin sekali bagiku. Sebenarnya Aku tidak boleh keluar malam-malam karena keadaan badan yang kurang memungkinkan. Tapi, semua itu harus ku tahan demi lancarnya aktivitas yang akan dihadapi. Jaket yang tebal berwarna putih dan rok yang besar menyelimuti badanku untuk menahan rasa dingin yang sangat menusuk badan.




Seandainya Aku bisa menahan rasa dingin sama dengan teman-teman baruku yang lain, maka jika kegiatannya sampai malampun akan ku tahan semua. Tapi, yang ada dalam keadaanku adalah Aku tidak tahan pada cuaca dingin apalagi cuaca dingin  di Malang.  Apa sich yang membuat Aku tidak tahan pada cuaca dingin?, alasan yang pertama adalah alergi dingin, cepat pilek jika keluar malam, dadaku agak sesak, dan akhirnya jika terlalu lama ada di luar pada waktu malam hari maka rasa sakit yang parah akan hadir dalam hidupku. Maka dari itu, Aku sangat takut untuk keluar malam.
Kakak pendamping panitia menemani kelompok Aku supaya semua tugasnya selesai dan tidak ada peserta yang kena hukum. Tapi, berdasarkan pengalaman yang telah terjadi pada tahun-tahun kemaren jika kita kena hukum maka kita akan terkenal oleh semua orang. Sebab anak yang melakukan kesalahan, maka mereka akan dihukum didepan Mahasiswa Baru yang lain secara kasar dan sangat mengenaskan.
Ketika ospek jika ingin dikenal oleh orang-orang baik itu dikenal panitia, semua MABA, dosen, dan semua pihak yang ada disekitar kampus mak kita dengan sengaja melakukan kesalahan dan mereka di cap sebagai Mahasiswa yang paling banyak melakukan kesalahan. Selain melakukan kesalahan untuk dikenal orang ada lagi cara supay dikenal oleh orang lain yaitu dengan menjadi peserta paling rajin dalam artian mereka tidak pernah melakukan suatu kesalahan sama sekali. Tapi, itu semua jarang terjadi, yang sering hanyalah Mahasiswa yang melakukan kesalahan. Mengapa demikian?, hal ini terjadi karena panitia selalu mencari-cari kesalahan Mahasiswa Baru meskipun yang dilakukan oleh Mahasiswa Baru tersebut hanyalah sebuah kesalahan yang sangat kecil dan hukumannya juga sering diberikan suatu hukuman yang tidak sesuai dengan kesalahan yang telah dilakukan.
Kekerasan dalam suatu ospek sebenarnya sangat tidak boleh dilakukan karena ini akan menghancurkan hati untuk setiap individu. Memang sudah umum hal kekerasan sering dilakukan karena mungkin ini semua adalah salah satu cara untuk kita bisa supaya bisa tegar menghadapi apapun yang ada terutama untuk menguji mental kita supaya kuat.

Mengapa Aku mengatakan kekerasan suatu pendidikan sangat tidak diancurkan?, hal tersebut dapat kita lihat pada hakekat pendidikan yaitu, istilah paedagogiek (ilmu pendidikan) berasal dari kata bahasa yunani pedagogues, dalam bahasa latin paedagogu, yang berarti pemuda yang bertugas mengantar anak ke sekolah serta mengantar anak itu agar bertingkah laku susila dan disiplin. Jika perlu anak dipukul bilamana ia nakal. Istilah itu dugunakan untuk mendidik (pedagog), dan perbuatan mendidik (pedagogi), serta ilmu pendidikan (paedagogiek). Ilmu pendidikan dalam bahasa inggris adalah pedagogy yang artinya sama dengan the study of educational goals and process ( English and english, 1970:376).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kita boleh menghukum dan memukul anak jika si anak nakal. Tapi kebanyakan yang dilakukan pada sistem ospek adalah mencari kesalahan si anak supaya dia dihukum dan hukumannya juga tidak sesuai dengan kesalahannya. Sedangkan pendidikan sering dkatakan sebagai seni pembentukan masa depan. Ini tidak hanya terkait dengan manusia seperti apa yang diharapkan masa depan, tetapi dengan proses seperti apa yang akan diberlakukan masa datang, baik dalam bentuk konteks peserta didik maupun proses, pendidikan perlu memperhatikan realitas sekarang untuk menyususn format langkah-langkah yang akan diberlakukan.
Sekolah juga harus memperhatikan integritas perkembangan individu dengan mendidiknya agar beriman, berilmu, beramal, dan berakhlak, suka melakukan pengabdian sosial, dan cinta pada tanah airnya. Untuk mencapai tujuan sekolah atau Perguruan Tinggi tersebut selain harus menjadi pusat menuntut ilmu, juga menjadi pusat ibadah dan jihad. Karenanya, disetiap sekolah harus ada masjid, sementara halamannya dapat dijadikan penyebaran pendidikan fisik. Demikian Sekolah harus menjadi pusat menyebar p-endidikan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan kelas-kelas orang dewasa serta sebagai aktivitas kependidikan dan sosial bagi lingkungan sekitar.
Sekolah atau Perguruan Tinggi harus memperhatikan segala aspek perkembangan anak, baik dari segi rohani, intelektual, emosional, sosial, dan fisik. Upaya Sekolah akan menjadi sempurna jika ada kerja sama diantara semua lembaga: keagamaan, sosial, dan olahraga, yang sama-sama menaruh perhatian terhadap semua aspek diatas. Agar dapat melaksanakan tugasnya masing-masing tersebut, setiap Sekolah perlu mempersiapkan masjid, laboraturium lengkap dengan laborannya, serta lapangan olahraga dan latihan fisik. Sementara itu bangunan-bangunan dengan segala fasilitasnya hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin, sehingga Sekolah menjadi pusat penyebaran pendidikan kepada Masyarakat dan pemerintah, disamping pusat berbagai aktivitas kebudayaan dan sosial bagi lingkungan setempat. Sekolah akan menjadi pusat ilmu bagi perkembangan intelektual, masjid untuk shalat bagi pengembangan rohani, pusat pelatihan bagi penguatan fisik, dan lapangan sosial bagi pengabdian kepada masyarakat serta pengembangan emosi dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, akan tercapai integritas perkembangan individu yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya, individu yang mempunyai andil dalam merumuskan masa depan yang cerah bagi umat.
  Ospek dilaksanakan selama satu minggu, dua hari tingkat universitas yaitu hari senin dan hari hari selasa. Pada hari selasa sore, Universitas menyerahkan peserta ordik kepada fakultas, lalu setelah itu ordik tingkat Fakultas selama dua hari yaitu hari rabu dan kamis. Pada hari kamis sore penyerahan peserta ordik ke tingkat universitas lagi, dan hari jumatnya adalah ordik terahir ditingkat universitas. Hari sabtunya adalah Halaqoh Diniyah.
Pada ospek tingkat Universitas sangatlah seru sekali pelaksanaannya. Bagi peserta Ordik yang datangnya ke kampus telat, maka akan dihukum dengan sanksi yang sangat berat biasanya dijemur ditengah lapangan. Memang sangat panas sekali dan akan membuat kulit kita menjadi hitam. Bukan hanya dijemur saja hukumannya jika kita melakukan sebuah kesalahan, tapi disuruh lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali dan keliling kampus. Memang hukuman yang sangat luar biasa bagiku.
Beda lagi hukuman pada tingkat fakultas jika kita melakukan suatu kesalahan, Aku pernah melakukan kesalahan satu kali, padahal kesalahannya tidak terlalu berlebihan yaitu pada waktu itu hari pertama ordik fakultas dilaksanakan, Aku  lupa tidak membawa  foto ukuran 3x4 yang harus ditempelkan pada papan nama. Anehnya lagi foto tersebut harus dalam keadaan buta, pokoknya kita disuruh mikir bagaimana caranya supaya foto yang Aku dapatkan adalah foto orang buta. Pada waktu itu, Aku memang sulit untuk menentukan sebuah pilihan dimana pada saat itu Aku lupa untuk membawa foto. Jika Aku balik lagi ke kosan untuk mengambil foto, entar Aku juga dihukum. Dan jika Aku lanjut berangkat ke kampus dalam keadaan tidak membawa foto, Aku juga dihukum. Jadi, langkah terahir yang Aku tempuh adalah Aku tetap berangkat dengan tidak membawa foto yang harus melambangkan orang buta tersebut.
Sesampai di kampus, sebelum naik ke lantai tiga dimana tempat tersebut merupakan kelas jurusan kita yaitu jurusan Biologi fakultas MIPA kita terlebih dahulu diperiksa oleh kakak panitia untuk kelengkapan yang harus dibawa. Jika ada satupun yang tidak dibawa, maka akan dikena sangsi atau hukuman oleh kakak panitia tersebut. Aku sudah sadar bahwa Aku salah telah tidak membawa foto, tapi mungkin ini semua sudah takdirku kena hukuman. Ternyata bukan hanya Aku saja yang peralatannya kurang lengkap, masih banyak anak yang kena hukuman karena kurang lengkap akan peralatan. Aku lupa tidak membawa foto, temanku Najah lupa tidak membawa tempe, Sahlan lupa pada nasinya tidak di model, dan masih banyak temenku yang lain terkena hukuman juga. Pokoknya semua kesalahan yang ada semua tidak masuk akal. Dan hukuman yang diberikan juga tidak masuk akal.
Semua peserta yang kena hukum dipisah kelompoknya dengan anak yang tidak kena hukum. Memang termasuk anak nakal jika kita digolongkan dengan semua anak yang terkena hukuman. Panitia menyuruh bagi Mahasiswa yang kena hukuman disuruh untuk merayu pohon yang ada disekitar dan kita disuruh mengannggap pohon tersebut sebagai cowoknya. Hatiku sangat tidak terima atas hukuman yang telah diberikan, masak Aku disuruh merayu pohon berdiri tanpa ada respon. Sepertinya harga diri yang ada pada diri ini langsung turun dan Aku sudah tidak bisa mikir lagi harus melakukan tindakan yang seperti apa. Lalu, dengan tidak sengaja Aku meneteskan airmata karena Aku sudah tidak sanggup untuk melakukan hukuman yang diberikan. Aku memang tidak terbiasa dimarahi oleh siapapun apalagi oleh kedua orang tuaku, makanya pas sekali dapat omelan dari orang langsung rasanya sok.


Waktu Aku menjalani hukuman yaitu untuk merayu pohon, tiba-tiba air mata keluar dengan sendirinya. Sebenarnya Aku tidak mau untuk mengeluarkan air mata karena Aku merasa bahwa Aku malu untuk itu. tapi, yang namanya hati tidak bisa kita tebak. Kakak panitia melihat Aku disaat Aku merayu pohon dan mengeluarkan air mata. Sebenarnya mereka tidak tega melihat Aku harus menangis merayu-rayu pohon yang sebenarnya tidak patut untuk dilakukan. Karena mereka tidak tega melihat Aku menangis terisak-isak, akhirnya Aku dan teman-teman semua disuruh berhenti untuk merayu pohon tersebut. Lalu setelah itu, kita disuruh untuk berbaris dua banjar. Ketika kita berbaris, kakak panitia menanyakan kepada para peserta satu persatu mengenai apa yang telah dirasakan oleh kita. Memang bagus mereka menanyakan secara langsung kepada para peserta apakah kita sudah menyesali atau tidak tentang apa yang telah kita lakukan, tapi mengenai cara yang telah ditempuh sangatlah salah dan tidak baik untuk proses pertumbuhan mental anak secara langsung. Seharusnya para panitia tidak boleh melakukan tindakan yang sekiranya sangat mengganggu kesehatan peserta dan mental, dan seharusnya mereka juga harus mengetahui tentang perasaan para peserta.
Ketika Aku ditanya alasan kenapa Aku nangis padahal perintah dari para panitia adalah merayu sebuah pohon yangn ada disekitar kita bukan untuk menangis. Pertama Aku sangat bingung dan tambah takut untuk menjawab pertanyaan itu. sebenarnya Aku tidak takut akan semua ini, tapi karena kakak panitia membentak dan menampakkan wajah yang sangat marah maka Aku terisak-isak tidak tahan menahan air mata yang ingin keluar. Aku mencoba untuk melawan rasa takut dan menjawab semua pertanyaan itu dengan pelan-pelan tapi lantang.
“ ini anak yang satu lagi, kenapa kamu nangis,,”
“ ya katanya tadi kan perintahnya adalah disuruh merayu pohon dan sekaligus harus menunjukkan ekspresi.”
“ Aku kan menyuruh kamu untuk berekspresi bukan menangis,.”
“ ya kak, itu semua adalah salah satu caraku untuk menunjukkan ekspresiku. “
“ alasan saja kamu,,,.” Seakan-akan tidak percaya.
“ ya kak beneran,,”
“ bukankah kamu menangis karena kamu merasa tertintas,”
“ tidak kak,, saya sama sekali tidak merasakannya akan hal itu. “
“ awas kalau kamu bohong,”dengan menunjuk tangan ke mataku.
Kata-kata yang dikeluarkan serta gerakan tangan dan tatapan mata sangat tidak baik dilakukan sangat menggetarkan hati dan jiwaku sacara kaget mendengarnya. Dari dulu, Aku akui bahwa tidak pernah dibentak-bentak seperti ini apalagi hanya gara-gara tidak membawa sebuah foto yang menggambarkan orang buta. Sangat tidak masuk akal bagi fikiranku.
Setelah semuanya selesai dihukum, semua peserta disuruh untuk naik kelantai tiga yaitu yang merupakan kelas kita biologi. Secara rapi kita berjalan melewati tangga, setelah sampai ke kelas biologi, kita dipersilahkan duduk terlebih dahulu dan istirahat untuk melepaskan lelah.
Didalam kelas, untuk melepaskan lelah ada sebuah permainan yang dibuat oleh kakak panitia. Permaianan tersebut memang sangat seru bagiku dan teman-teman yang lain yaitu sebuah permainan dimana salah satu teman diantara kita harus maju dan duduk didepan umum. Lalu, panitia menuliskan kata-kata disebuah kertas dan membagikan kertas tersebut pada semua peserta kecuali temanku yang duduk didepan karena untuk menguji ketanggapan dia sebesar mana dia bisa menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh peserta yang lain.
Pada permainan tersebut, semua peserta sangat senang dengan atas pelaksanaan. Pertama, temanku tidak mau maju untuk  menjadi peserta yang harus  dites kecerdasannya. Tapi, jika dia tidak mau atas apa yang disuruh oleh kakak panitia maka dia akan mendapatkan suatu hukuman dimana hukuman yang akan diberikan sangatlah berat untuk dilakukan. Didepan, temanku duduk seperti orang yang benar-benar kena hukuman dan sedang mempertanggungjawabkan atas kesalahan  yang telah dibuatnya. Setelah tulisan yang telah dibagikan kepada para



 peserta dibaca, maka setiap anak wajib untuk memberikan satu pertanyaan yang ada hubungannya dengan kata-kata tadi. Secara berurutan, peserta memberikan pertanyaan dan teman yang menjawab atas pertanyaan sangatlah lucu. Memang jawaban yang dilontarkan sangat benar, tapi permainan ini hanyalah suatu lelucon semata.
Setelah semua peserta memberikan pertanyaan, untuk acara selanjutnya adalah  materi dari dosen yang mengajar di Fakultas Mipa jurusan Biologi. Jika sampai pada materi, semua teman-teman sudah menampakkan wajah yang sangat bosen. Apa yang membedakan wajah itu beda-beda jika ada pada saat materi dan permainan?, ternyata Aku sendiri merasakan bahwa permainan sangat cocok bagi kita dan pertumbuhan tubuh kita, sedangkan jika pada saat materi Aku merasa bosen karena tidak cocok bagi hatiku apalagi jika yang mengajar tidak menyenangkan.
Dua hari ordik Fakultas sudah berlalu, lalu pada hari kamis sore adalah penyerahan peserta dari Fakultas ke Universitas. Ospek tinggal satu hari lagi yang akan dilaksanakan, dan tinggal satu hari lagi untuk proses kekejaman yang akan terjadi pada diriku dan semua peserta ospek. Tapi, semua itu harus dilalui dengan senyuman meski kita merasa lelah dan sangat capek untuk dilaksanakan.
Pada malam jumatnya kita sudah sibuk lagi untuk membuat peralatan yang harus dibawa pada hari jumat. Seperti biasa peralatannya memang mudah untuk dibuat, tapi karena yang harus dipersiapkan sangat banyak jadinya capek dan sangat melelahkan. Terkadang, timbul kata-kata dalam hati kecilku kapan akan selesai kegiatan ini?, ya memang sesuatu jika kita tidak senang akan sesuatu tersebut terasa sangat lama untuk dijalani. Tapi sebenarnya kita harus terima bagaimanapun dengan keadaan kita, karena itu semua adalah kewajiban.
Banyak angkatanku yang tidak mengkuti ospek baik itu Fakultas maupun Universitas, meskipun mereka tidak ikut ospek bersama dengan teman-temannya, tapi mereka wajib untuk mengikuti ospek pada tahun berikutnya atau pada angkatan selanjutnya, karena salah satu persyaratan untuk kita lulus adalah mengikuti ospek.


Di Universitas Islam Malang, setelah dilaksanakannya ospek dan pada hari sabtu dilaksanakan suatu kegiatan yaitu Halaqoh Diniyah. Halaqoh Diniyah dilaksanakan selama 3 bulan pada setiap hari sabtu dari jam 06.00 WIB sampai dengan jam 10.30 WIB. Kegiatan dalam halaqoh diniyah diantaranya adalah, jam 06.00 WIB kita sholat duha dimana jika ada peserta yang telat maka akan dikena sanksi yang telah ditentukan oleh panitia. Setelah itu, tes mengaji secara satu-persatu dengan benar dan tepat yang dites oleh kakak tingkat yang menjabat sebagai kakak panitia. Lalu, ada paket hafalan yang telah dibagi pada hari sebelumnya untuk dihafalkan. Kemudian, kegiatan ceramah agama dengan nara sumber yang sudah berprofisional sebagai ustad. Semua kegiatan tersebut jika dilaksanakan dengan hati tidak senang maka akan terasa malas untuk menghadiri Halaqoh Diniyah. Tapi, jika dilaksanakan dengan senang hati dan dengan perasaan penuh ikhlas maka akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari kegiatan tersebut.
Semua kegiatan pasti ada hikmahnya baik itu menyenangkan bagi maupun tidak. Sedikit banyak pasti ada pengalaman yang akan kita dapatkan dari kegiatan ospek maupun Halaqoh Diniyah. Ospek memang suatu kegiatan yang membuat kita merasakan dan mengerti bagaimana cara kita menjadi seorang diri yang sangat disiplin dan sangat memanfaatkan waktu tanpa ada sedikit waktupun yanng ingin terlewati secara sia-sia. Memang pada tahap awal utnutk kegiatan tersebut sangat berat untuk dilaksnakan, tapi jka kita sudah terbiasa untuk melakukannya setiap hari maka akan terasa senang dan kita juga akan berfikir betapa pentingnya waktu dan sangatlah rugi jika waktu tersebut tidak dimanfaatkan secara baik dan benar.
Tapi, jika mengenai dengan suatu cara mendidik yang kurang baik untuk proses mental anak memang benar, seharusnya tidak boleh kegiatan yang menyiksa batin anak. Dan pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Halaqoh diniah adalah kita dapat menghafal ayat-ayat Al-Quran serta kita dapat mengetahui ilmu-ilmu yang belum kita ketehui mengenai agama islam yang sesungguhnya.  Memang banyak mahasiswa yang tidak mengikuti perintah-perintah yang telah ditentukan, tapi mereka tidak mengetahui dan mendapatkan ilmu yang telah diajarkan.
Dalam halaqoh Diniyah sebenarnya termasuk kegiatan yang sangat menyenangkan bagiku, tapi yang tidak menyenangkan adalah disaat kita harus bangun tidur sangat pagi dan mandi kedinginan didalam kamar mandi, bertepatan Aku tinggalnya adalah di kota Malang, jadi sangat dingin jika Aku harus mandi pagi-pagi di Malang.
Pada aturan Halaqoh Diniyah jika kita tidak masuk sebanyak tiga kali itu masih terhitung kita lulus. Tapi jika kita tidak masuk lebih dari tiga kali maka dianggap tidak lulus dan harus mengulang lagi tahun depan. Untuk proses penilaian Halaqoh Diniyah sangat sulit dan ruwet, mendapat nilai A jika kita hadir terus, tidak pernah telat, selalu ikut sholat dhuha, aktif, cara membaca Al-Quran baik dan benar, menghafal hafalan yang telah ditentukan. Aku tidak berhasil untuk mendapatkan nilai A karena Aku pernah tidak masuk sebanyak 3 kali karena Aku sakit dan keadaanku yang tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Hari jumat, saat terahir ospek pada tingkat Universitas, Aku tidak mengikuti ordik karena kesehatan yang kurang memadai. Mungkin Aku kecapean karena kegiatan terlalu ful dalam waktu satu minggu ini. Lagi pula Aku kekurangan istirahat, dan Aku istirahat hanya 3 jam dalam waktu 24 jam, dan sisanya digunakan untuk aktivitas ospek. Ya pantas saja Aku langsung drop dan masuk rumah sakit, bukan hanya karena faktor terlalu capek saja yang membuat Aku sakit tapi karena juga Aku dihukum disaat melakukan suatu kesalahan. Memang, Aku paling tidak bisa jika Aku dibentak-bentak dan dimarahin, karena dari dulu Aku tidak pernah yang namanya dimarahi oleh orang lain apalagi orang tuaku sendiri, bahkan guruku selama menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMA Aku tidak pernah dimarahi.
Hari Sabtunya, Aku sudah agak sehat dan ada kemungkinan untuk mengikuti kegiatan Halaqoh Diniyah. Jam 05.00 WIB Aku segera mandi dan sarapan supaya mempunyai tenaga yang cukup demi kesehatanku sendiri. Jam 06.00 WIB Aku berangkat ke kampus dan menuju masjid, Aku lihat banyak sekali Mahasiswa yang sudah datang dan solat dhuha juga hampir dimulai. Hampir saja Aku telat dan tidak dapat mengikuti solat dhuha, seandainya Aku telat maka nilaiku akan berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar