Senin, 30 Januari 2012
KEGAGALAN MEMPERTAHANKAN CITA
Kelas tiga SMA adalah posisi yang sangat sulit bagi kita, dimana kita harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita. Nilai yang tingggi merupakan idaman bagi semua siswa, karena nilai tinggi salah satu syarat untuk bisa diterima di perguruan tinggi.
Suatu ketika Pak Eli salah satu guru SMA Negeri 1 Sangkapura memberikan suatu pengumuman.
“ anak-anak, Pak guru akan memberikan selembar kertas pada kalian dan tulis cita-cita kalian apa dan kalian ingin melanjutkan ke Universitas mana yang kalian inginkan. Setelah itu Pak guru akan menilai apakah kalian semua cocok dengan apa yang kalian cita-citakan.” Ucap Pak Eli
“ iya pak.......” jawab siswa-siswi dengan senang
Siswa-siswi kelas tiga sangat senang atas pengumuman yang Pak Eli berikan. Dengan senyum-senyum dan saling bertanya antar teman apa yang akan ditulis. Aku mengisi kertas kosong itu dengan perasaan senang sekali. Akhirnya cita-citaku sejak kecil akan segera terwujud yaitu kuliah di Fakultas kedokteran.
“ if, apa yang kamu tulis dikertas kosong itu?,” tanya Lia
“ mau tau aja sich kamu, rahasia dong?” candaku padanya
“ ya ni Lia mau tau aja” sambung Shafa
“ sudah-sudah, tulis saja apa yang ada dihayalkan kalian. Setelah itu baru
saling cerita, gimana setuju?,” kata Nufus
“ok dech” jawab Lia dan Shafa dengan serempak
“ sudah semua anak-anak!...” tanya pak Eli
“ ya pak”
“ sekarang kumpulkan ke depan ya”
Dengan berebutan siswa-siswi mengumpulkan kertas cita-cita yang berisi penuh harapan tersebut. Pak Eli pun juga ikut senang atas keramaian yang penuh kegembiraan yang kami rasakan. Bagi guru perasaan senang yang dialami siswa-siswinya juga merupakan suatu kebanggaan bagi guru-gurunya. Tidak ada guru yang menginginkan anak didiknya gagal, semua guru pasti ingin anak didiknya berhasil meskipun banyak siswa-siswi yang kemampuannya dibawah standart, yang terpenting adalah mempunyai keinginan dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dari yang paling baik.
Setelah semua siswa-siswi kelas tiga duduk rapi di tempat duduk masing-masing pak Eli berkata,
” ya anak-anak, kalian sudah mengumpulkan kertas yang Pak guru berikan. Pak guru akan membacanya dan Pak guru harap keinginan kalian juga merupakan keinginan orang tua kalian juga. Terima kasih atas perhatiannya. Assalamualaikum war. wab”
Dengan cepat-cepat Pak Eli keluar dari kelasku yang rameh itu karena akan diisi oleh guru matematika yaitu pak Oho yang merupakan wali kelasku kelas 3 IPA 1.
Tidak lama kemudian pak oho datang.
“ Assalamualaikum” dengan senyum-senyum pak oho masuk ruangan
“ Mualaikum salam pak” jawab anan-anak serentak
“langsung ke pelajaran ya”
“ ya pak”
Ruangan menjadi sunyi tanpa ada suara sedikitpun. Semua pada konsentrasi untuk belajar matematika. Ada yang kebingungan dan ada yang langsung mengerti atas penjelasan dari pak oho. Yang sudah mengerti langsung maju ke depan untuk mengerjakan kuis yang diberikan, dan ada juga yang ditunjuk oleh pak oho supaya semua satu kelas mengerti dan juga bisa mengerjakan soal-soal tersebut.
Pelajaran matematika memang sulit untuk dimengerti dan dipahami. Tapi sesungguhnya matematika adalah suatu ilmu yang pasti dan jika benar-benar ada niat untuk mengerti dan memahami maka pelajaran tersebut juga termasuk pelajaran yang gampang dan menyenangkan. Bukan hanya guru matematika saja yang berkata hal yang seperti itu, tapi aku juga mengatakannya seperti itu.
dua jam pelajaranpun sudah berlalu dan bel berbunyi yang menandakan waktunya untuk pulang. Semua siswa-siswi bersorak-sorak karena semuanya merasa senang lagipula lapar serta haus sudah dirasakan oleh masing-masing individu.
Pak Eli yang menjabat sebagai guru BK (bimbingan Konseling) sudah mendata satu-persatu siswa-siswi yang mau ikut PMDK. Akupun sudah daftar ke pak Eli untuk ikut PMDK di UNEJ dan di UMM fakultas Kedokteran. Yang ikut PMDK di UNEJ diantaranya aku ambil kedokteran, Puji ambil perawat , dan Lia bahasa inggris. Di UMM yang ikut PMDK adalah aku dan Kia anak IPA dua ambil kedokteran. Semua data yang ikut PMDK baik di UNEJ, UGM, UNIBRAW, UNDIP, UNAIR dan di UMM semua sudah dikirim dan tinggal menunggu hasil.
Ujian Nasional (UN) tinggal satu minggu lagi dilaksanakan. Semua siswa dan siswi semakin bersungguh-sungguh belajar untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan memuaskan. Hati berdebar-debar untuk menghadapi UN yang sangat mengerikan karena kurang nilai satu saja sudah tidak lulus.
Hari demi hari sudah terlewati, tibalah saatnya UN dilaksanakan. Aku berangkat jam enam dari rumah supaya nyampek sekolah tidak telat dan tidak tergesa-gesa masuk ruangan. Ketenangan memang sangat penting bagiku untuk menghadapi UN. Tidak lama kemudian, bel masuk ruangan berbunyi dengan keras dan mendebarkan suasana yang sangat rameh itu. Semua siswa-siswi masuk ruangan sambil membaca doa supaya bisa mengerjakan dan dibukakan fikiran yang jernih untuk mengerjakan soal yang sangat sulit.
Sebelum mengisi kertas jawaban UN Aku membaca Alfaatihah (Pembukaan) terlebih dahulu yang artinya:” dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani). “ Aku membaca surat ini karena surat “ Al-Faatihah “ ini melengkapi unsur-unsur pokok Syari’at Islam, yang kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang seratus tiga belas surat berikutnya. Lagipula dibagian akhir surat “Al-Faatihah” disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang surat “Al-Baqarah” dimulai dengan penunjukan “Al-Kitab” (Al-Qur’an) yang sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu. Surat “Al-Faatihah” tersebut Aku baca sebanyak tiga kali.
Hari demi hari Ujian Nasionalpun berlalu. Tinggal menunggu hasil yang keluar. Apapun hasilnya aku akan selalu bersyukur karena itulah keputusan dari Allah. Manusia cuma bertugas untuk berusaha dan Allahlah yang menentukan. Bersamaan dengan menunggu hasil Ujian Nasional dan pengumuman PMDK keluar, Aku mencari-cari informasi tes di Perguruan Tinggi supaya tidak membuang-buang waktu. Aku tidak hanya berharap pada PMDK untuk diterima, ikut PMDK hanyalah untuk jaga-jaga dan demi kemudahan langsung masuk di Perguruan Tinggi tanpa adanya tes.
Bulan lima tiba-tiba Aku mendengar informasi kalau di UMM ada SPMB yang diadakan tingkat universitas pada tanggal 4 Mei 2010, itupun tinggal dua hari untuk pendaftaran. Dengan cepat-cepat Aku pergi ke malang dan mendaftarkan diri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aku mengambil jurusan kedokteran untuk pilihan satu dan pilhan yang kedua tidak diisi karena aku hanya menginginkan satu jurusan saja yaitu kedokteran yang merupakan cita-citaku sejak kecil untuk menjadi dokter.
Di tes tersebut terdapat dua kali penyaringan yaitu pada tahap pertama yaitu tes wawancara yang dilaksanakan pada waktu pendaftaran dan tahap kedua tes tulis yang dilaksanakan pada hari senin tanggal empat Mei 2010. Dan pada saat tes berlangsung pegawas membagikan selembar kertas yang berisi jadwal daftar ulang bagi mahasiswa yang lolos seleksi. Aku lihat hari dan tanggal pengumuman ternyata pengumuman jatuh pada tanggal tujuh yaitu hari kamis. Hatiku sangat senang sekali melihat tanggal tersebut. Tidak sabar rasanya untuk menanti hari yang mendebarkan tersebut. Ya sabar tidak sabar ya harus sabar karena hari itu akan datang.
Tidak lupa Aku berdoa meminta doa restu dari Allah atas apa yang telah Aku lakukan karena tanpa restu Allah tidak ada guna meskipun kita berusaha sekeras apapun jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan terkabul. Setelah solat tidak lupa untuk membaca “Al-Quran”. Kegiatan tersebut Aku lakukan setiap hari. Nabi juga menganjurkan supaya “Al-Qur’an” itu dihafal, selalu dibaca, dan diwajibkannya membacanya dalam sembahyang.
Dalam surat “Al-Alaq” ayat 3,4,5 yang artinya “ Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar dengan pena. Dia telah mengajarkan kepada manusia yang tidak diketahuinya.”
Hari demi hari tibalah saatnya pengumuman yang ditunggu-tunggu. Dengan perasaan berdebar-debar Aku ingin cepat-cepat membuka internet untuk melihat pengumuman. Aku sangat berharap disaat buka pengumuman Aku diterima, ah betapa senangnya hatiku. Dengan membaca bismillah ku ketik nama dan nomor tes, ternyata hanyalah kekecewaan yang ku dapat. Aku tidak berkata sepatah katapun, yang keluar hanyalah setetes air mata dan rasa perih yang tiada tandingannya. Apa boleh buat, manusia hanya berusaha dan Allahlah yang menentukan. Ku tutup laptop dan langsung tidur. Meskipun mata tidak bisa tidur ku pura-pura tidur supaya orang tuaku juga tidak merasakan kekecewaan sebelum terbangun dari tidurnya. Besok pagi-pagi baru ku bisa ceritakan kejadian yang sebenarnya.
Aku tak tau harus dari mana memulai pembicaraan. Dengan kepala menunduk Aku berkata, “ ma, pa, Aku tidak lulus tes” dengan tidak sengaja air mataku keluar lagi,
” mungkin ini belum saatnya untuk Aku diterima, masih ada seratus kali kesempatan untuk bisa ikut tes dan masih ada seribu kesempatan untuk diterima. Sekarang Aku masih mengikuti satu kali dan masih satu Perguruan Tinggi. Lagipula PMDKnya kan belum pengumuman.”
Aku harus tetap yakin, yakin dan yakin kalau suatu saat pasti ada jalan untuk diterima. Suatu hari Pak Bat’ul salah satu guru SMA Negeri I Sangkapura yang mengajar Sosiologi datang kerumah untuk mengantarkan selembar kertas dan disimpan didalam amplop yang berisi suatu pengumuman. Ku buka pelan-pelan dengan gemetar tangan dan telapak tangan yang basah seakan-akan Aku tidak ingin untuk membukanya. Rasa takut memang selalu ada didalam hati karena rasa trauma yang dialami. “Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani”. Itulah kata-kata yang ada dalam hatiku, dengan yakin ku baca kertas itu. Setelah ku buka amplop itu ternyata lulus. Hatiku sangat senang sekali membacanya. Satu kali merasakan kekecewaan tapi dibalik kekecewaan itu pasti ada kesenangan yang datang.
Tinggal satu pengumuman lagi yang ku tunggu-tunggu yaitu pengumuman PMDK. Besok tibalah saatnya pengumuman tersebut, pikiranku sudah tidak karuan dan perasaan tenang lagi. Memang rasa takut, takut, dan takut selalu ada didalam benakkku. Keesokan harinya ku pergi ke warnet untuk melihat pengumuman. Dengan cepat-cepat ku buka internet dan pengumuman PMDK tersebut. Ternyata yang ku dapat hanyalah kekecewaan yang ke dua kalinya. Aku tidak diterima lagi, perasaan bingung bertambah dalam fikiranku. Tapi perasaan sedih tidak tampak dalam wajahku, meskipun sedih dan perasaan bingung menyelimuti hidup ku tiada tampak. Hanya Allah yang tahu maksud dari semua ini.
Melihat kejadian yang terdahulu, dua kali mengalami kegagalan Aku tetap bersikukuh untuk tetap mengikuti tes. Jika masih banyak kesempatan untuk maju kenapa harus takut untuk melakukan yang terbaik buat masa depanku. Aku tidak pernah berfikir orang akan berkata apa karena itu semua adalah hak setiap individu mau berkata seperti apa. Banyak sich yang berkata aneh-aneh dan kadang orang-orang berlebihan dalam menyampaikan informasi. Ya!,. yang namanya manusia, jika mengetahui kebaikan orang lain maka dia akan diam, dan jika mengetahui keburukan orang lain meskipun keburukan itu kecil dan tidak keterlaluan pasti menjadi bahan pembicaraan. Jika kita terus-terus memikirkan orang lain, kita tidak akan pernah maju. Dan, jika kita terus mempunyai rasa malu terhadap orang lain atas kegagalan yang dialami maka kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita akan maju. Manusia mencapai suatu kesuksesan tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketabahan dalam menjalani semua halangan yang dihadapi. “Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil “ kata-kata itu sangat bagus sekali dan selalu ku ingat sebagai penyemangat.
Akhirnya Aku mencoba tes SPMB di UMM gelombang yang kedua. Pagi-pagi jam sembilan aku berangkat ke UMM untuk daftar. Ternyata didalam sana tempat pendaftaran sudah banyak yang antri untuk melakukan daftar yang secara online dan tes tahap yang pertama yaitu tes wawancara. Aku juga antri sama dengan calon mahasiswa yang lain. Antri memang kegiatan yang sangat membosankan untuk dijalani, tapi mau tidak mau ya harus dijalani dengan sabar. Semua pasti ada jalan asalkan kita mau bersabar.
Tes yang kedua yaitu tes tulis yang bertepatan pada hari senin sudah dimulai. Dengan rasa percaya diri Aku mengisi dengan sungguh-sungguh. Soal tes sebanyak seratus soal dengan jangka waktu satu setengah jam. Waktu yang sangat singkat dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengerjakan. Doa tidak selalu lupa kubaca untuk meminta restu pada-Nya. Satu persatu ku isi lembar jawaban itu, akhirnya selesai juga. Bel berbunyi menandakan waktu untuk mengerjakan telah habis. Pengawas mengambil soal dan jawabannya satu persatu dengan tertib. Kelihatannya pengawas memang sangat menakutkan, tapi bagiku sudah biasa untuk semua itu karena sudah dua kali mengikuti tes tentunya hati dek-dekan sudah tiada hanya diawalnya saja. Pengawas tidak butuh untuk ditakuti tapi dibuat santai, mereka juga manusia sama dengan kita tapi statusnya lebih tinggi dibandingkan kita hanya saja kita harus lebih menghormati. Yang lebih tua bukan untuk ditakuti tapi dihormati.
Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan terlebih dahulu, pengumuman bagi peserta akan segera diumumkan. Seperti biasa prosesnya sama dengan tes yang pertama. Peserta yang tidak lolos tes yang pertama juga ikut tes yang kedua sama denganku tidak lolos pertama, sekarang ikut tes yang kedua. Ternyata bukan hanya Aku yang tidak lolos pada tes yang pertama, bahkan banyak peserta yang lulusan SMA nya lulusan tahun yang lalu, satu tahun sebelum Aku yaitu lulusan tahun 2009. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk bersedih hati karena tidak lulus seleksi. Perbedaan antara tes yang pertama dengan yang kedua adalah di tes pertama Aku hanya menggunakan surat keterangan dari sekolah karena ijazahnya belum keluar, sedangkan di tes yang kedua sudah menggunakan ijazah.
Proses pengumuman sama juga dengan tes yang pertama yaitu tiga hari setelah tes sudah diketahui apakah diterima menjadi mahasiswa baru atau tidak. Didalam hati ku berfikir sejenak, “apalagi yang akan menimpaku?”. Tapi ku harus tetap yakin dan yang terpenting adalah berusaha dan mencoba masalah hasil hanyalah Allah yang tahu.
Di atas lantai suci yang dialasi sejadah berwarna biru dan mukenah yang menutupi aurat ku berdoa,
“ ya Allah tuhan kami, hanya Engkau yang tahu apa saja yang akan terjadi dengan kehidupanku mendatang. Bukakanlah rahasia-Mu untukku, jadikanlah Hamba sebagai Hamba yang selalu ada dijalan-Mu dan Engkau ridhai. Tidak ada sesuatu yang mudah kecuali engkau jadikan mudah. Di sini Hamba hanya menjalani perintah-Mu ya Allah yaitu mencari Ilmu sedalam mungkin yang sudah Engkau siapkan untuk kami. Dan kami tidak tahu harus sampai kapan kami menjemput ilmu tersebut yang sudah Kau siapkan bagi kami. Semoga Engkau meridhai apa yang sudah Hamba lakukan. Amin ya Rabbal Alamin..”
Memang, sesuatu tidak akan terjadi tanpa seizin Allah. Dan kita tidak akan tahu maksud dari kehidupan ini. Hidup memang pedih, tapi sebenarnya kepedihan itu akan sirnah jika kita selalu ingat akan Allah. Allah akan menjadikan sesuatu yang sulit menjadi mudah jika kita dekat dengan-Nya. Dan Allahpun akan jauh jika kita jauh. Kita dalam keadaan apapun harus selalu ingat pada Allah, baik itu dalam keadaan sedih, tawa, senang, merana, kaya, miskin atau apa sajalah harus selalu menyebut nama-Nya dan semua hal tersebut hanyalah cobaan dan ujian semata, dan Allah pasti mengetahui atas segala usaha yang telah dilakukan oleh hambanya.
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengatahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS:Muhammad:18)
Al Bukhary berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan wajibnya mempunyai ilmu ( pengetahuan ) sebelum mengeluarkan ucapan dan melakukan perbuatan. Ini dalil yang tepat yang menunjukkan bahwa manusia hendaknya mengetahui terlebih dahulu, dan baru kemudian mengamalkannya.
Tiga hari setelah tes tibalah sudah, pengumuman tes sudah beredar di internet. Seperti biasa Aku melihat diinternet dengan perasaan selalu yakin akan pengumuman tersebut. Setelah ku lihat lagi-lagi kekecewaan yang selalu datang.
“ Aku tidak lulus lagi.”
Apa yang harus ku lakukan, perasaan sedih, pedih, merana, dan kecewa lagi-lagi ada dalam hidupku. Ketika Aku merasa hidup kembali, ketika aku merasa bahwa mencoba sesuatu yang diinginkan tidak langsung didapat tapi butuh kesabaran yang tiada henti. Tapi, dengan keadaan yang seperti ini Aku harus bagaimana?. Ya, inilah keputusan Allah. Ku tidak bisa berkata apa-apa.
“ tes yang kedua ku mengalami kegagalan lagi”
Berfikirlah positif sekalipun kita sedang diterpa badai karena sesungguhnya badai atau kesulitan itu adalah ujian yang diberikan oleh Tuhan untuk menguji keimanan kita. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang kuat tanpa melalui ujian yang berat?. Kemudahan bukan datang dengan sendirinya melainkan haruslah dibentuk dan. Dan membentuknya yaitu melalui berbagai ujian. Ketika kita akan berubah lebih baik, saat itulah keyakinan kita akan terwujud karena alam bawah sadar kita secara tidak kita sadari telah kita meyakininya. “ is not only to be known but also to be tried.”
Kegagalan yang keempat kalinya ku mengalaminya. PMDK dua kali, tes SPMB dua kali. Aku belum merasa puas akan keputusan itu, tes di UMM tinggal satu kali lagi, ku mendaftarkan diri lagi di Universitas tersebut.
“Kamu sudah berapa kali ikut tes disini?’ tanya pengawas tersebut waktu tes wawancara
“ dua kali pak, gelombang satu dan dua” jawabku dengan lantang
“ kenapa memilih jurusan kedokteran?”
“ karena jurusan ini merupakan cita-citaku sejak kecil”
“ kenapa kamu masih tetap ikut tes disini, sedangkan kamu sudah tidak diterima?,.”
“ Awal kegagalan bukan akhir untuk kita tetap maju mencapai suatu kesuksesan. Tapi justru jika kita merasakan kegagalan kita harus tetap tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tidak semudah yang kita bayangkan tapi butuh pengorbanan dan kesabaran yang disertai dengan do’a dan restu Allah. Untuk masalah yang dua kali tes saya belum diterima, mugkin Allah belum memberikan restu untuk Saya bisa kuliah di Universitas sini.”
“ pekerjaan orang tuamu apa, memangnya kuat membiayai kulia jurusan kedokteran di universitas ini?”
“ pekerjaan orang tua Saya wirausaha, reski hanya Allah yang ngatur dan Allah sudah menyiapkan akan hal itu.”
Bapak pengawas itu tercengang mendengar penjelasan yang ku ucapkan tadi. Sambil tersenyum Bapak itu mempersilahkan Aku untuk keluar seakan-akan dia senang akan kata-kata yang ku ucapkan. Di Universitas Muhammadiyah Malang Aku ikut tes yang ketiga kalinya. Mudah-mudahan saja tidak mengalami sama dengan yang terdahulu ku rasakan. Tes sudah dilaksanakan pada hari senin. Seperti biasa Aku datang ketempat tes sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Aku memang sudah biasa menghadapi tes di Universitas tersebut. Menghadapi pengawas yang banyak juga memang sudah biasa.
Seperti biasa tes sudah dilaksanakan tinggal menunggu hasil. Tes yang ketiga kalinya Aku gagal lagi. Gagal, gagal, dan gagal, ku harus bagaimana?, timbul tanda tanya yang sangat besar dikepalaku. Aku tidak tahu Apa yang menyebabkan kegagalan ini. Apakah sudah takdirku terus-terus mengalami kegagalan yang kesekian kalinya ataukah ini semua hanyalah cobaan bagiku supaya tetap menjadi Hamba yang selalu sabar dan tabah. Ku tiada mengerti akan hidup ini. Lagi-lagi kuberfikir “ Apa yang harus ku lakukan???,,, ”
Yang kulakukan hanyalah menerima dan menerima karena Allah yang tahu maksud semua ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, yang ku bisa hanyalah berdoa dan terus berusaha demi masa depanku. Mungkin jika orang lain akan setres menghadapi semua ini, tapi bagiku ini semua hanyalah suatu masalah
yang memberikan semangat yang tinggi untuk menjemput kesuksesan. “Harus berapa kali ku mengalami hal yang seperti ini?.” Tidak ada yang bisa menjawab, bahkan diri sendiripun tidak bisa menjawab. Hanya waktulah yang bisa menjawab.
Di kosan baru dengan cat berwarna putih bersih dan sangat luas, itulah tempat tinggal baruku. Aku satu-satunya anak yang baru dikosan itu. Memang sulit untuk menjadi anak kos yang pertama kalinya, semua seba sendiri. Makan sendiri, masak sendiri, tidur sendiri, semua serba sendiri. Yang kulakukan untuk sekarang adalah belajar mandiri tanpa orang tua dan keluarga. Di kosan baru itu ku hidup sendiri, tempat tinggal baru, teman baru, dan lingkungan baru. Memang sulit untuk menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan baru.
Hari pertama Aku hidup dikosan itu memang sulit untuk memulai harus melakukan apa dan harus bagaimana. Secara perlahan-lahan ku melakukan kegiatan rumah tangga yaitu yang pertama pada pagi hari mencuci baju serta menjemurnya, lalu kepasar untuk memasak. Setelah memasak ku makan dech masakannya. Meskipun tidak enak rasanya tetap ku makan, karena masakan itu merupakan hasil masakanku sendiri.
Masakan yang bisa ku masak hanyalah masakan yang biasa dimasak dirumah yaitu masak ikan panggang, masak sayur sop, sayur nangka, masak merah, masak kuning, nasi goreng, mie goreng, dan masakan yang lain belum bisa. Oya hampir lupa, Aku juga bisa memasak nasi. Tapi, untuk masakan yang lain kurang bisa. Untuk masak masakan yang belum ku bisa misalnya untuk memasak sayur opor nangka, maka terlebih dahulu ku tanya pada ibu.perlahan-lahan ku coba resep dari ibu yang diberikan lewat telpon genggam. Memang unik cara masak yang ku lakukan. Masak sambil nelfon dan mendengarkan musik. Aku rasa tidak ada orang yang memasak sambil nelfon dan mendengarkan musik, memang cara masak yang kulakukan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi jika tidak kulakukan cara itu, aku rasa sangatlah bosan.
Proses masak memasak tidak tiap hari kulakukan, kadang jika sedang sibuk dan tidak mempunyai kesempatan akan hal itu maka ku beli nasi di warung favoritku. Masak tidak dijadikan sulit bagiku untuk menghambat belajar yang kulakukan.
Setelah memasak, Aku langsung mandi dan belajar. Belajar terus dilakukan supaya lulus tes. Sambil melamun kubuat puisi pendek yang ku ketik dilaptop baruku.
Naluri hati seorang pelajar,
Ingin tau hal-hal yang baru,
Tapi tak terbalas oleh waktu,
Bahkan,
Waktu sedikitpun tak mau terlewati,
Namun,
Yang harus tetap lakukan
mengamalkan ilmu yangn didapat,
Rindangkan hati yang lapang,
Itulah hidup dari seorang pelajar sejati,.
Lalu kuprint puisi itu dan ditempel di Mading kamar kos. Ketika mengalami ketempurukan, puisi itu menjadi obat bagiku. Puisi itu menceritakan tentang seorang pelajar yang tiada lelah ingin mencapai apa yang diinginkan supaya mendapatkan hal-hal yang baru, dan setelah mendapatkan semuanya maka kita harus memanfaatkannya. Puisi itu memang persis dengan apa yang kurasakan saat ini. Waktu memang sangat berarti bagiku untuk dipergunakan sebagai belajar. Bahkan istirahatpun itu jarang dilakukan jika tidak lelah.
Di Universitas Muhammadiyah memang sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengikuti tes karena sudah tidak ada lagi. Tapi, masih ada Universitas Islam Malang (UNISMA). Di Universitas tersebut masih ada dua kesempatan lagi untukku mengikuti tes. Gelombang ke tiga ku daftar. Biaya pendaftaran sangat jauh bedanya dengan Universitas Muhammadiya, di UMM biaya pendaftaran seratus lima puluh ribu rupiah sedangkan di UNISMA tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Biaya yang sangat banyak sekali untuk dikeluarkan.
Proses tes di UMM dan UNISMA sangatlah jauh beda. Di UMM hanya diadakan dua kali tes yaitu tes wawancara dan tes tulis, sedangkan di UNISMA diadakan tiga kali seleksi yaitu seleksi yang pertama selama dua hari yang meliputi tes tulis dan tes psikologi, dites psikolog diadakan juga tes wawancara dan membutuhkan waktu dari jam delapan pagi sampai jam empat sore untuk mengikuti tes tersebut. Memang membutuhkan tenaga yang sangat banyak untuk tes tersebut. Setelah diadakan tes tulis dan tes psikologi lalu pengumuman untuk tahap pertama. Jika lulus seleksi pertama maka berhak untuk mengikuti seleksi yang kedua yaitu tes kesehatan. Setelah tes kesehatan masih ada lagi pengumuman dan jika diterima harus mengikuti seleksi yang terahir yaitu pertemuan antara dosen dan orang tua. Disitulah tahap terahir lulusnya kita untuk bisa kuliah di Universitas tersebut.
Memang ada diposisi yang sangat sulit. Seleksi untuk diterima di jurusan tersebut memang sangat sulit, dengan peminat yang sangat banyak dan yang dibutuhkan sedikit. Tahap penyeleksian sangat ketat sekali. Proses belajarku memang ditingkatkan lebih dari yang kemaren-kemaren.
“ ku harus lebih mempersiapkan untuk tes yang akan mendatang.” Batinku
Siang, malam, dan tanpa mengenal lelah selalu buku yang ku pegam dan kubaca. Perasaan bosan karena belajar yang secara terus-menerus tidak ada sama sekali dalam hatiku. Yang ada dalam fikiranku hanyalah harus lulus dan lulus.
Dengan tulisan yang sangat besar kutulis di kertas berwarna putih,
“ Bila bicara tentang belajar ku tiada berubah dan lelah”
Tulisan itu ditempel di majalah dinding, lagi-lagi majalah dinding. Tulisan itu memang sangat singkat, tapi mempunyai makna yang sangat luas.
Hari demi hari kulewati degan belajar, tibalah saatnya untuk menghadapi tes di UNISMA. Tes yang pertama Aku ikuti di Universitas tersebut. Dengan pelan-pelan kumencari letak kursi tempat tesku akan dilaksanakan. Dari kursi paling depan sampai kebalakang ku mencarinya, dan ternyata letak kursi yang kucari ada di paling depan sebelah kanan. Dengan percaya diri Aku duduk dikursi itu karena ku yakin semua peserta tes juga merasakan apa yang kurasakan. Hanya saja mereka pura-pura mengerti. Banyak peserta tes yang sudah ku kenal, ternyata mereka peserta yang tidak lulus di Universitas Muhammadiyah kemaren. Ternyata bukan hanya Aku yang merasakan ketempurukan, tapi masih banyak diluar sana yang merasakan lebih sulit keadaannya dariku.
Setengah jam lagi tes akan dimulai, ku buka-buka buku yang materinya masih kurang dikuasai. Tiba-tiba.....” tettttttt............” bel berbunyi menandakan waktu tes akan segera dimulai. Dengan segera pengawas tes masuk dalam ruangan yang ber AC tersebut. Sebelum dimulai pengawas memberikan pengumuman terlebih dahulu.
“ mohon perhatiannya sebentar. Kalian mempunyai waktu satu setengah jam untuk mengerjakan soal ini sebanyak seratus soal. Semua dikerjakan sendiri tanpa ada bantuan dari pihak manapun. Jika dketahui ada yang mempunyai bocoran maka ada sanksinya tersendiri. Hp semua dimatikan dan tas di taru dibawah kursi.” tutur Bapak pengawas itu dengan tegas.
“ ya pak”
Semua peserta tidak berkata sepatah katapun. Pengawas membagikan soal dan lembar jawaban satu persatu kepada semua peserta tes. Dengan bacaan bismillah ku mulai mengerjakan soal itu. soal yang ku kerjakan bukanlah soal yang jumlahnya sedikit tapi sangat banyak sekali dan membutuhkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi untuk mengerjakannya.
Soal demi soal ku kerjakan satu persatu dengan teliti. Soal yang sulit ditinggal terlebih dahulu dan lebih mengutamakan yang gampang. Seratus soal memang semua harus diisi tanpa ada satu soalpun yang tersisa untuk tidak dikerjakan. Karena jika ada satu soal yang tidak dikerjakan sudah mengurangi nilai. Jika soal salah maka tidak dikurangi.
Disaat peserta tes mengerjakan soal, pengawas juga membagikan komsumsi untuk peserta. Semua peserta memang dapat komsumsi itu, tapi tidak ada satu pesertapun yang membuka kotak yang telah dibagikan. Semua konsentrasi pada soal yang harus diselesaikan dengan tepat waktu tersebut.
Kulihat jam ternyata jam sudah menunjukkan sembilan dua puluh menit. Tinggal sepuluh menit lagi untuk mengerjakan. Dengan cepat-cepat ku isi bagian soal yang belum, dan ternyata selesai juga dengan tepat waktu.
“ teeeeeeeeeeeetttttt...........” bel berbunyi panjang.
Semua peserta tidak diperkenankan untuk mengerjakan soal lagi. Dengan segera pengawas mengambil soal dan lembar jawaban. Setelah semuanya selesai peserta tidak diperkenankan pulang terlebih dahulu karena masih ada pengumuman.
“ Terima kasih kalian semua sudah mengikuti tes dengan peraturan yang berlaku. Besok silahkan datang lagi untuk mengikuti tes yang kedua yaitu tes psikologi dengan jam yang sudah ditentukan dijadwal. Silahkan makan yang banyak karena membutuhkan tenaga yang ful buat tes besok. Mungkin besok tesnya sampai sore dilaksanakan karena masih ada tes wawancara juga. Terima kasih atas perhatiannya, sampai jumpa besok, dan Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh”
“ Mualaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh”
Semua peserta keluar melewati pintu yang sama. Suasana ruangan yang semula sepi langsung rameh menjadi satu. Aku langsung pulang ke kos dan menikmati makanan kotak yang dibagikan di kampus tadi. Ternyata kotak itu berisi martabak, donat, kacang garuda, permen, dan aqua. Pantesan saja mahal pendaftarannya, ada komsumsinya.
Yang kupelajari dikosan bukanlah sama dengan yang kupelajari kemaren. Kemaren mempelajari soal-soal IPA dan sekarang mempelajari soal-soal psikologi. Aku mempunyai buku tersebut untuk memperdalam ilmu psikolog dan ternyata tidak mudah. Butuh konsentrasi yang tinggi dan tingkat ketelitian terhadap soal. Belajar, lagi-lagi belajar. Mau tidak mau ya harus mau untuk belajar.
Proses belajar tiada henti ku lakukan, sampai-sampai ku disuruh berhenti untuk makan terlebih dahulu sama mbak-mbak kos. Makan memang lupa kulakukan karena belajar yang keterlaluan. Akhirnya ku beli nasi keluar bersama teman-teman satu kos. Setelah makan lanjut lagi kegiatan belajarku.
Keesokan harinya, pagi-pagi jam enam sudah selesai mandi lalu makan pagi untuk mempersiapkan stamina. Setelah semuanya siap tepat jam tujuh pagi Aku berangkat ke kampus UNISMA untuk tes yang kedua. Sesampai di kampus ternyata sudah banyak eserta yang lain yang lebih pagi datangnya dibbandingkan Aku.
Masih ada waktu satu jam untuk belajar di depan ruangan tes. Dengan teman-teman yang lain ku belajar bersama untuk bertukar pikiran mengenai soal yang sekiranya akan keluar. Ku fikir teman-teman yang lain lebih bisa mengerjakan soal-soal psikolog dengan berbagai model soal, ternyata lebih bisa Aku dan tingkat kecepatannya juga jauh lebih cepat Aku dibandingkan dengannya. Aku tidak habis fikir, ternyata masih banyak yang kemampuannya dibawah kemampuanku. Hanya saja Aku kurang berpengalaman akan hal proses belajarnya.
Tidak lama kemudian, waktu sudah menunjukkan pas jam delapan. Semua peserta masuk kedalam ruangan tes. Semua pengawas juga sudah masuk dalam ruangan tersebut. Sama dengan tes yang kemaren, pengawas memberikan pengumuman terlebih dahulu mengenai proses kelancaran tes yang akan dilaksanakan dan Hp juga tetap dimatikan.
Proses tes psikologi dengan tes tulis itu sangatlah beda. Kalau tes tulis hanya memberikan beberapa kertas yang berisi serataus soal, tapi kalau tes psikologi pengawas memberikan satu buku dan buku tersebut berisi soal. Di dalam buku itu dikerjakan perlembar dengan waktu lima menit untuk lima belas soal, jika waktu lima menit sudah habis dan soal yang lima belas tersebut belum selesai maka tidak boleh dikerjakan lagi, karena harus berpindah ke halaman berikutnya dengan jumlah soal yang sama dan waktu yang sama juga. Perlu diketahui bahwa sebelum mengerjakan soal, pengawas memberi tahu caranya mengerjakan soal terlebih dahulu setelah semuanya mengerti baru disuruh kerjakan.Segitulah sistemnya sampai soal dibuku tersebut habis.
Setelah soal dibuku itu habis dikerjakan , pengawas menyuru peserta tes untuk istirahat ditempat duduk terlebih dahulu untuk menghilangkan lelah dan pengawas mengambil buku soal dan lembar jawaban satu persatu secara tertib. Rasa capek belum hilang, pengawas sudah membagikan soal yang berikutnya. Untuk soal berikutnya adalah soal menghitung dengan waktu yang terbatas. Sistemnya adalah menghitung kebawah secara tepat dan jawaban disisipkan disela-sela angka antara angka yang di atas dengan angka yang di bawahnya. Yaitu seperti contoh,
1 3 7 5 7 3
.. .. .. .. .. ..
5 8 4 2 9 7
.. .. .. .. .. ..
3 8 5 8 7 8
.. .. .. .. .. ..
4 7 2 4 6 8
.. .. .. .. .. ..
8 6 3 7 8 9
.. .. .. .. .. ..
6 9 3 7 9 6
.. .. .. .. .. ..
6 6 7 6 5 7
.. .. .. .. .. ..
7 7 9 3 7 8
.. .. .. .. .. ..
8 5 6 7 8 3
Sistem tersebut dikerjakan secara terus menerus tanpa ada istirahat, memang gampang cara tersebut, tapi tangan merasakan capek yang sangat luar biasa. Angka yang ada di kertas itu jumlahnya tidak sedikit tapi sampai menghabiskan kertas sampai kebawah kertas. Peserta tidak boleh istirahat sampai angka belum habis kerjakan.
Setelah sistem menghitung, lalu pengawas mengambil kertas yang berisi angka dan membagi kertas gambar. Kita disuruh menggambar sesuai dengan perintah yang sudah dijelaskan oleh pengawas yaitu kita menggambar selain pohon pisang, cemarah, mangga, dan jambu, selain itu boleh.
Pertama Aku pusing mau menggambar pohon apa,. Lama kuberfikir. Tiba-tiba ku punya inspirasi yaitu menggambar pohon pepaya. Sebenarnya Aku tidak bisa untuk menggambar, sangat sulit bagiku untuk menggambar apalagi tidak ada contohnya hanya dengan menghayal. Selain disuruh menggambar pohon ada satu lagi perintah untuk menggambar yaitu menggambar manusia sesuai dengan jenis kelamin diri sendiri, kalau Aku misalnya berarti menggambar manusia yang berjenis kelamin perempuan. Tapi harus diberi penjelasan mengenai perasaan yang dirasakan oleh gambar. Kalau gambarnya menampakkan rasa sedih berarti perasaannya lagi sedih, patah hati atau apa sajalah yang menggambarkan gambar itu sedih.
Ku gambar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Memang kalau untuk menggambar Aku ngaku bahwa Aku tidak bisa. Bisa sich sedikit menggambar tapi hasilnya kurang bagus. Ku gambar manusia berjenis kelamin perempuan. Tiba-tiba dengan tidak sengaja wajahnya menampakkan rasa sedih dan perasaan susah. Ya ku beri saja keterangan sedih. Tapi, yang tidak habis fikir kenapa tesnya disuruh menggambar manusia dan pohon?. Apa hubungannya dengan penerimaan pada jurusan kedokteran?, mungkin hanya Aku saja yang kurang mengerti tentang hubungan gambar tersebut dengan penerimaan.
Disaat semua peserta konsentrasi menggambar, pengawas membagikan komsumsi pada peserta. Yang sudah selesai menggambar pengawas menyuruh untuk mengumpulkan hasil karya yang sudah dibuat, dan langsung mengikuti tes yang selanjutnya yaitu tes wawancara. Secara antri peserta mengikuti tes tersebut satu persatu. Aku saja hampir tidak sabar menunggu untuk dipanggil oleh pengawas. Tidak lama kemudian, namaku dipanggil untuk mengikuti tes tersebut. Hatiku langsung kaget mendengar namaku dipanggil oleh pengawas.
Setelah masuk ruangan tempat tes wawancara ku langsung duduk setelah dipersilahkan untuk duduk oleh pengawas. Tata cara duduk memang menjadi suatu penilaian yang sangat berpengaruh. Yang mewawancaraiku adalah seorang laki-laki kira-kira berumur empat puluh limat tahun. Sebelum dilontarkan sebuah pertanyaan, Bapak itu memberikan sebuah kertas yang berisi beberapa pertanyaan diantaranya adalah apa hoby yang sering kulakukan, apa pekerjaan orang tuaku, kenapa memilih jurusan ini, apa kejadian yang membuat Aku sedih, dan setelah semua pertanyaan ku jawab lalu Bapak itu membacanya dan menanyakan maksud dari jawaban yang kutulis pada lembar jawaban. Kujelaskan secara rinci maksud dari pertanyaan Bapak itu. Bapak itu menatapku dengan sangat serius.
Ada satu pertanyaan yang belum Bapak itu tanyakan, yaitu
“ apa yang membuat Aku sedih”
Tidak lama kemudian, ternyata ditanyakan oleh Bapak yang mewawancaraiku. Lalu ku jawab,
“ yang membuat Aku sedih adalah ketika seorang sahabat menghianati dan memfitnahku.”
“ kenapa sahabat kamu bisa menghianatimu dan memfitnahmu?”
“ karena dia tidak mempunyai apa yang Aku punya, atau bisa dikatakan Aku lebih segala-galanya darinya.”
“ sejak kapan kamu tahu bahwa dia menghianatimu?”
“ sejak pertama dia memfitnahku dengan menceritakan sesuatu yang jelek dan meng’ada-ada tentang keadaanku.”
“ lalu bagaimana tindakanmu ketika mendengar sahabatmu menghianatimu?”
“ ku tidak bisa berkata apa-apa, ku hanya bisa diam seribu bahasa.”
“ maksud kamu pura-pura tidak tahu dengan keadaan semua ini?.”
“ ya,,,”
“ kenapa”
“ karena dia sahabatku sejak SMP”
“ tapi, dia sama sekali tidak menganggapmu sebagai sahabtmu?”
“ dia bukan tidak menganggap Aku sebagai sahabtnya, tapi dia hanya karena hatinya dihantui rasa cemburu. Seandainya perasaan itu tidak ada, dia tetap sahabatku yang baik hati”
“ Apakah kamu tidak mempunyai rasa untuk membalasnya”
“ sama sekali tidak,”
“ kenapa”
“Dia sahabtku”
“ ya saya tahu dia sahabatmu, tapi rasa sakit yang kamu rasakan bagaimana”
“Kalau masalah sakit hati, biar saya saja yang menanggugnya, dan orang lain biar hanya melihat dan merasakan kebagiaan yang kurasakan meskipun hatiku sebenarnya berkata sangat pedih sekali ”
Bapak itu hanya diam ketika Aku menjawab pertanyaanku, dan beliau hanya bisa mengangguk seakan-akan beliau merasakan apa yang kurasakan yaitu merasakan rasa pedih yang mendalam,.
“kau memang seorang gadis yang baik, meskipun sahabatmu menghianati dan memfitnahmu, kamu tetap baik dan selalu tersenyum meski pedih menyelimuti hatimu. Saya terharu padamu.”
“ makasih pak’
Lalu Bapak itu mempersilahkan saya untuk keluar meninggalkan tempat duduk dan juga Aku boleh pulang untuk istirahat. Dan satu lagi pemberitahuannya, silahkan kembali disaat hari pengumuman jika lulus seleksi. Ya Allah mudah-mudahan saja ku lulus seleksi untuk sekarang. Amin,,,,,.!!
Betapa senang hatiku jika lulus seleksi, setiap akan ada pengumuman ku selalu yakin akan hasil tes yang ku lakukan berkali-kali. “ Apa yang membuatku tidak lulus seleksi?, apakah mungkin Aku tidak mampu tapi tidak pernah menyadarinya akan semua ini?” pertanyaan itu selalu ada dalam fikiranku dan sampai saat ini pertanyaan itu tidak terjawab. Hanyalah waktu yang bisa menjawab.
“ Ya Allah, apakah hanya Aku yang tidak menyadarinya?, ampuni Hamba jika Hamba tidak tidak sadar dengan keadaan yang Engkau berikan.”
Oya, tugasku kan hanya untuk berusaha dan Allahlah yang menentukan mengenai usaha yang telah dilakukan oleh manusia. Bukan Aku tidak percaya dengan ketetapan yang Allah telah berikan padaku, tapi ini semua Aku lakukan demi orang yang telah mengharapkan Aku untuk mencapai cita-cita tersebut. Dan sebenarnya, Aku sudah menyerah dan merasa lelah terhadap yang telah dilakukan olehku. Terutama yang paling mendukungku adalah kedua orang tua yang terus-terus mendorongku dari belakang dan juga selalu mendoakan setiap selesai mengerjakan perintah Tuhannya yaitu solat lima waktu dan mengaji.
Banyak sekali usaha yang telah dilakukan orang tua demi kesuksesan anaknya, terutama orang tua perempuan yang sangat menyayangi dan memanjakanku. Aku sangat bersyukur Allah telah memberikan yang lebih dari cukup jika dibadingkan dengan orang lain mengenai dengan hidupku. Aku tidak tega melihat orang tua, keluarga dan bapak serta ibu guruku yang sangat menyayangiku sejak mengenyam Pendidikan Sekolah Dasar (SD) juga merasakan sedih yang sangat pedih untuk diterima.
Jika kita berbicara tentang perasaan orang tua, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal dan tidak ada juga guru yang menginginkan anak didiknya untuk tidak berhasil. Ibu merupakan guru yang pertama bagi kita dimana sejak kita masih ada di Alam yang berbeda yaitu masih dalam masa alam kandungan, kita sudah di ajari oleh Ibu, misalnya, Ibu mendengarkan musik klasik supaya anak yang dilahirkan sudah terbiasa mendengar kalau sudah entar lahir ke dunia. Dan setelah lahir kita juga sudah di ajari ngomong menyebut nama mama, papa. Pokoknya orang tua mendidik kita mulai dari kita masih dalam kandungan sampai dengan kita berkeluarga orang tua masih juga mengajari kita ke jalan-jalan jika ada di jalan yang tidak diperbolehkan terutama dalam perintah Allah.
Tiba waktunya pengumuman hasil seleksi tes Kedokteran di Universitas Islam Malang, cara untuk mengetahui hasil tersebut juga beda dengan UMM, yaitu kalau di UMM melihat dengan sistem Online sedangkan di UNISMA bisa lewat telepon dan juga bisa lihat sendiri melalui online. Pertama Aku melihatnya dengan sistem telepon dengan menyebutkan nama dan nomor tes, dan ternyata hasilnya sangat pedih untuk diterima, lagi-lagi pedih,
“ Aku tidak lulus lagi, apa yang harus Aku lakukan? “
Aku masih belum puas dengan menanyakan hasil seleksiku hanya dengan melalui telepon, lalu cepat-cepat ku mandi untuk melihat sendiri ke kampus. Aku tahu dan sadar bahwa kemampuanku mengerjakan soal tes masih biasa jika dibandingkan dengan anak yang mengikuti Bimbingan Belajar. Kesalahnku dari awal adalah Aku tidak ikut Bimbel. Aku sangat menyadari bahwa Aku salah, tapi apa yang harus dilakukan jika semuanya sudah terjadi dan terlewati. Mungkin ini sudah jalan terbaik untuk hidupku.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikiranku dan aku juga tidak tahu apa yang telah Aku lakukan selama ini. Bahkan Aku juga tidak tahu apa arti semua ini, apa benar jika kita mencoba sesuatu sumua pasti ada hasilnya, tapi bagaimana dengan yang ku coba selama ini?, apakah ada hasilnya?. Semua ini ini hanyalah sia-sia dan sangat mengecewakan bagi hatiku untuk diterima. Sangat sulit untuk menerima sesuatu jika kita menginginkan sesuatu dan tidak tercapai. Tapi itulah hidup. Aku kurang banyak mengetahui apa arti dari sebuah kesabaran dan ketabahan, yang ku tahu hanyalah bisa pasrah dan merenungi nasib atas kegagalan yang telah terjadi.
Dulu, Aku sangat menugngu-nunggu dengan keadaan tes seperti ini, dan yang ku inginkan ketika Aku melihat pengumuman ternyata diterima. Tapi, semua hanyalah hayalan dan hanyalah sebuah keinginan yang tidak pernah tercapai oleh sosok seorang diri yang kemampuannya masih kurang bagiku. Dan Aku tidak tahu harus sampai kapan Aku melakukan semua ini apakah Aku terus menerus ikut tes dan apakah Aku harus menyerah begitu saja. Tapi, jika Aku menyelesaikan semua ini maka Aku benasr-benar mengalami kegagaln. Sedagkan Aku masih ingin terus mencoba. Ya, keputusanku adalah lanjut.
“ Bismillah Allah Ridho”
Keesokan harinya, Aku daftar lagi di Universitas yang sama yaitu UNISMA untuk gelombang yang terahir gelombang ke empat. dengan bacaan Bismilla ku melangkah. Ternyata yang daftar untuk gelombang ke empat sangatlah banyak sekali bahkan melebihi yang daftar digelombang ke tiga. Jumlah peserta tes yang daftar adalah sekitar tujuh ratus lima pulu dan dan hanya diperlukan sekitar sepuluh peserta untuk diterima. Benar-benar saingan yang sangat ketat sekali, dan kemungkinan untuk diterima juga sangat kecil sekali. Aku tidak pernah berhenti berharap tapi terus berharapa bahwa suatu saat nanti Aku merasakannya atas usaha yang telah Aku lakukan.
Pertengahan bulan Agustus dan bersamaan dengan bulan Ramadhan tes dilaksanakan. Persiapan untuk melaksanakan tes juga sudah agak matang jika dibandingkan dengan tes yang kemaren-kemaren. Ini adalah tes yang terahir yang akan dilaksanakan, jika tes kali ini gagal lagi maka tidak ada harapan lagi buat Aku untuk mencapai cita-citaku. Tapi yang kuharapkan adalah sukses meskipun yang terahir.
Setelah berusaha untuk melaksanakan tes yang telah Aku laksanakan secara maksimal, tidak ada lagi yang kuharapkan kecuali lulus dari hasil seleksi. Tes yang dilaksanakan juga masih sama sistemnya dengan gelombang yang ketiga yang sudah dilaksanakan. Lagi-lagi pengumuman membuat Aku merasakan hal yang sama dengan yang kemaren-kemaren yaitu merasakan kekecewaan. Lagi-lagi kecewa, kapan tiba waktunya Aku akan merasakan sesuatu yang membuat hati tidak kecewa?. Itu hanyalah pertanyaan yang tidak bisa ku jawab sendiri.
Mengapa kita berada di sini?,
Jika bumi huni ini adalah sebuah kebetulan,
Maka kitapun adalah kebetulan,
Tetapi, jika bumi ini mempunyai arti,
Maka diri kitapun memiliki arti.
( Albert Einstein )
Puisi diatas yang bisa menjawab semua kejadian-kejadianku yang telah terjadi dan kegagalan-kegagalan dari usaha yang telah dilakukan. Kita mempunyai arti meskipun arti dari sebuah usaha dan diri kita mengenai usaha sangatlah kecil tapi sebenarnya usaha tersebut sangtlah besar harganya jika dibandingkan dengan seseorang yang tidak melakukan melakukan usaha untuk mencapai sesuatu yang diingikan dalam artian tidak berusaha dan hanya bisa pasrah pada keadaan yang terjadi.
Aku tidak pernah menyesal atas apa yang telah Aku lakukan selama ini. Meskipun beberapa kali mengalami kegagalan ku tetap tidak menyesal karena aku hanya berusaha mencapai dan menjalani kewajibanku selama masih ada kesempatan.
“ jangan pernah menganggap “belajar” suatu kewajiban, tapi anggaplah ia suatu suatu kesempatan menyenangkan untuk membebaskan diri dalam mmepelajari keindahan alam dan kehidupan. Belajar adalah untuk kebahagiaan kita sendiri dan akan memberikan keuntungan bagi masyarakat tempat kita bekerja nanti.”
Aku tahu bahwa diatas langit masih ada langit, dan orang yang pintar juga masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari yang kita bayangkan. Oleh karena itu, kita jangan melihat hanya dengan satu pihak saja, tapi harus dari segala aspek dan setiap sudut pandang kita lihat bahwa masih banyak orang yang jauh kurang beruntung dibandingkan kita, oleh sebab itu kita haruslah bersyukur serta ikhlas menerima keadaan karena dengan bersyukur dan ikhlas Allah akan menambah nikmat kita menjadi lebih banyak dan berarti.
Yang indah hanya sementara,,,
Yang abadi adalah kenangan,,,,
Yang ikhlas hanya dari hati,,,
Yang tulus adalah dari sanubari,,,
Bukan mudah mencari yang hilang,,,
Bukan mudah mengejar impian ,,,,
Namun jauh lebih susah adalah
mempertahankan apa yanga ada,,,
Karena yang tergenggam bisa terlepas,
Yang terikat terkadang membelenggu,,,
bak kata pepatah
Jika Kau tidak dapat memiliki apa yang kau sukai,,,
Sukailah apa yang Kau miliki,,,,..
Memang betul yang diungkapkan diatas, kita harus menyukai apa yang kita miliki. Kita boleh memiliki suatu keinginan dan cita-cita tapi, tidak selamanya yang kita inginkan menjadi suatu kenyataan. Senang gak senang kita harus berusaha untuk menyenangi apa yang kita miliki. Dan, mau tidak mau kita harus mau untuk menerima dengan keadaan yang telah ditentukan oleh Allah.
Inilah jawaban yang tidak pernah bisa ku jawab selama ini. “ Aku tidak bisa mencapai cita-citaku dan mempertahakannya untuk menjadi suatu kenyataan. Tapi Aku yakin suatu saat nanti pasti ada hikmah dibalik semua cobaan yang ada.”
Minggu, 29 Januari 2012
Akhir Perjuangan
Sudah memang sudah,
Aku tak bisa menghindar,
Mungkin semua telah usai ,
Bukan usai untuk selamanya,
Tapi.........
Usai untuk sementara,
Perjuanganku yang telah
Berlalu,
dan perjuangan tidak untuk ditinggalkan,
Tapi perjuangan yang selalu
mengikuti langkah umurku,
Rasa sakit tak bisa menebus,
Atas kegagalan,
Namun,
Ku coba tersenyum,
Saat semua sirna,
Saat semua hilang,
Saat semua hanyalah tinggal kenangan,
Satu keinginanku,
Mengenang yang telah terjadi,
Dan tersenyum untuk maju,,
Demi kesuksesan masa depan yang cerah,..
Cita-cita bukan harus untuk tercapai,
Tapi,
Cita-cita untuk diperjuangkan supaya tercapai.
Nelpon Tanpa Nomer
Suatu desa yang bernama desa Sidogedungbatu, dusun Pamona, hiduplah seorang nenek yang tinggal disebuah gubuk. Dia bernama Bu Arik. Bu Arik mempunyai keluarga yang bekerja sebagai buruh di Malaysia. Bu Arik adalah orang yang kurang kenal yang namanya alat canggih. Suatu hari, keluarga Bu Arik yang tinggal di Malaysia mengirimkan sesuatu yang dianggap sangat penting dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, ia mengumumkan pada para tetangganya bahwa ia disayangi dan diperdulikan oleh mereka meskipun jauh dimata tapi dekat dihati. Untuk membuktikan bahwa yang dikatakan itu benar, ia menunjukkan bukti pada para tetangganya. Semua tetangga Bu Arik percaya pada omongannya. Mereka memberikan sebuah nasihat pada Bu Arik bahwa ia harus berterima kasih pada keluarganya atas segala sesuatu yang telah diberikan.
Dan pada akhirnya Bu Arik mengikuti semua nasihat para tetangganya. Pada suatu hari, ia memutuskan untuk nelfon keluarganya yang ada di Malaysia. Dan hari itu juga ia datang ke wartelku.
“ Nak.....! nak....!”
“ iya, siapa?” tanyaku.
“ ini Aku, Bu Arik.”
“ Ada perlu pa bu?!” tanyaku lagi
“bilang ya sama keluargaku, bahwa kirimannya sudah nyampek dan terima kasih banyak, dan kalau ada dikirimi lagi juga gak apa-apa!” jawab Bu Arik dengan suara semangat.
saya tidak mengerti apa yang dimaksud Bu Arik. Dia perlu apa dan maunya apa. Aku sempat berfikir, kenapa dia tiba-tiba suru Aku untuk bilang sama keluarganya yang ada di Malaysia bahwa kirimannya sudah nyampek. Emangnya Aku kenal sama keluarganya?. Dan akhirnya aku balik bertanya
“ Maaf bu,! Aku tidak mengerti apa maksud ibu!”
“ kamu ini gimana sih, Aku kan sudah bilang kalau Aku mau nelfon dan nanti kamu yang ngomong, kalau semua kirimannya itu sudah nyampek. Ngerti kan?” jawab bu Arik dengan kasar.
“ oh!! Maksud Ibu, Ibu mau nelfon ya???, bilang dong dari tadi!. Jangan berbelit-belit gitu dong?!”
“ yeee......!!!! Aku kan sudah bilang dari tadi. Kamunya aja yang ga’ mengerti !, anak sekolah kok gak ngerti bahasanya nenek-nenek!”
Akupun tersipu malu mendengar ocehan bu Arik, lalu Aku bertanya
“ terus nomor telefonnya mana??”
Bu Arik kelihatannya agak sedikit bingung untuk menjawab pertanyaanku. Dan ia sempat bertanya,” lho emangnya......................” omongan Ibu Arik tersendat,
“ memangnya nelfon pakai nomor ya??”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bu Arik yang cukup aneh itu. mana ada orang nelfon tanpa nomer bisa sampek tujuan? dan apakah dari zaman dahulu sampai sekarang ada orang yang nelfon tanpa nomer bisa sampai tujuan dan jika ada tentunya bebas biaya dong?,....
Dan pada akhirnya Bu Arik mengikuti semua nasihat para tetangganya. Pada suatu hari, ia memutuskan untuk nelfon keluarganya yang ada di Malaysia. Dan hari itu juga ia datang ke wartelku.
“ Nak.....! nak....!”
“ iya, siapa?” tanyaku.
“ ini Aku, Bu Arik.”
“ Ada perlu pa bu?!” tanyaku lagi
“bilang ya sama keluargaku, bahwa kirimannya sudah nyampek dan terima kasih banyak, dan kalau ada dikirimi lagi juga gak apa-apa!” jawab Bu Arik dengan suara semangat.
saya tidak mengerti apa yang dimaksud Bu Arik. Dia perlu apa dan maunya apa. Aku sempat berfikir, kenapa dia tiba-tiba suru Aku untuk bilang sama keluarganya yang ada di Malaysia bahwa kirimannya sudah nyampek. Emangnya Aku kenal sama keluarganya?. Dan akhirnya aku balik bertanya
“ Maaf bu,! Aku tidak mengerti apa maksud ibu!”
“ kamu ini gimana sih, Aku kan sudah bilang kalau Aku mau nelfon dan nanti kamu yang ngomong, kalau semua kirimannya itu sudah nyampek. Ngerti kan?” jawab bu Arik dengan kasar.
“ oh!! Maksud Ibu, Ibu mau nelfon ya???, bilang dong dari tadi!. Jangan berbelit-belit gitu dong?!”
“ yeee......!!!! Aku kan sudah bilang dari tadi. Kamunya aja yang ga’ mengerti !, anak sekolah kok gak ngerti bahasanya nenek-nenek!”
Akupun tersipu malu mendengar ocehan bu Arik, lalu Aku bertanya
“ terus nomor telefonnya mana??”
Bu Arik kelihatannya agak sedikit bingung untuk menjawab pertanyaanku. Dan ia sempat bertanya,” lho emangnya......................” omongan Ibu Arik tersendat,
“ memangnya nelfon pakai nomor ya??”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bu Arik yang cukup aneh itu. mana ada orang nelfon tanpa nomer bisa sampek tujuan? dan apakah dari zaman dahulu sampai sekarang ada orang yang nelfon tanpa nomer bisa sampai tujuan dan jika ada tentunya bebas biaya dong?,....
Sabtu, 28 Januari 2012
Jadilah Pemburu Impian
Kegagalan bukan akhir dari sebuah kehidupan, justru kita mengalami kegagalan kita akan mengetahui apa arti dari sebuah kegagalan tersebut. Seseorang yang mengalami kegagalan adalah seseorang yang mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mencapai suatu kesuksesan.
Dalam mencari ilmu kita tidak boleh gengsi atau merasa malu karena yang mengajari kepada kita adalah guru yang lebih muda dari kita. Usia berapapun dia jika memberikan ilmu pada kita itu berarti dia merupakan guru kita yang harus kita hormati dan kita doakan.
Dalam mencapai suatu kesuksesan butuh suatu kesabaran, karena kesabaran adalah buah dari kesuksesan. Jika kita sabar untuk mencapai suatu pekerjaan itu berarti kita akan mencapai suatu kesuksesan. Selain kesabaran adalah kunci dari kesuksesan, kesuksesan juga butuh kerja keras karena meskipun kita sabar tapi kita tidak kerja keras itu percuma ibarat tong kosong nyaring bunyinya.
Dalam melakukan suatu keinginan kita harus ingat bahwa Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan,tapi Allah berikan sesuatu yang kita butuhkan, jadi apapbila kita ingin mencapai sesuatu tapi tidak dikabulkan berarti itu tidak baik bagi kita. Seperti yang terjadi pada kisahku, Aku sangat mendambakan untuk menjadi dokter tapi tidak tercapai dan akhirnya Aku kuliah di jurusan Biologi, lalu di jurusan biologi Aku mendapat suatu penghargaan yang sangat luar biasa di luar dugaanku selama ini yaitu mencapai mimpi yang tak terkira untul dicapai. Dan mulain sekarang Aku menjadi pemburu impian karena dengan kita bermimpi untuk mencapai sesuatu itu akan menjadi kenyataan sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Dan satu hal yang harus kita catat bahwa tidak boleh sombong ketika kita sukses.
Dalam mencari ilmu kita tidak boleh gengsi atau merasa malu karena yang mengajari kepada kita adalah guru yang lebih muda dari kita. Usia berapapun dia jika memberikan ilmu pada kita itu berarti dia merupakan guru kita yang harus kita hormati dan kita doakan.
Dalam mencapai suatu kesuksesan butuh suatu kesabaran, karena kesabaran adalah buah dari kesuksesan. Jika kita sabar untuk mencapai suatu pekerjaan itu berarti kita akan mencapai suatu kesuksesan. Selain kesabaran adalah kunci dari kesuksesan, kesuksesan juga butuh kerja keras karena meskipun kita sabar tapi kita tidak kerja keras itu percuma ibarat tong kosong nyaring bunyinya.
Dalam melakukan suatu keinginan kita harus ingat bahwa Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan,tapi Allah berikan sesuatu yang kita butuhkan, jadi apapbila kita ingin mencapai sesuatu tapi tidak dikabulkan berarti itu tidak baik bagi kita. Seperti yang terjadi pada kisahku, Aku sangat mendambakan untuk menjadi dokter tapi tidak tercapai dan akhirnya Aku kuliah di jurusan Biologi, lalu di jurusan biologi Aku mendapat suatu penghargaan yang sangat luar biasa di luar dugaanku selama ini yaitu mencapai mimpi yang tak terkira untul dicapai. Dan mulain sekarang Aku menjadi pemburu impian karena dengan kita bermimpi untuk mencapai sesuatu itu akan menjadi kenyataan sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Dan satu hal yang harus kita catat bahwa tidak boleh sombong ketika kita sukses.
Langganan:
Postingan (Atom)