Minggu, 29 Januari 2012

Nelpon Tanpa Nomer

Suatu desa yang bernama desa Sidogedungbatu, dusun Pamona, hiduplah seorang nenek yang tinggal disebuah gubuk. Dia bernama Bu Arik.  Bu Arik mempunyai keluarga yang bekerja sebagai buruh di Malaysia. Bu Arik adalah orang yang kurang kenal yang namanya alat canggih. Suatu hari, keluarga Bu Arik yang tinggal di Malaysia mengirimkan sesuatu yang dianggap sangat penting dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, ia mengumumkan pada para tetangganya bahwa ia disayangi dan diperdulikan oleh mereka meskipun jauh dimata tapi dekat dihati. Untuk membuktikan bahwa yang dikatakan itu benar, ia menunjukkan bukti pada para tetangganya. Semua tetangga Bu Arik percaya pada omongannya. Mereka memberikan sebuah nasihat pada Bu Arik bahwa ia harus berterima kasih pada keluarganya atas segala sesuatu yang telah diberikan.
Dan pada akhirnya Bu Arik mengikuti semua nasihat para tetangganya. Pada suatu hari, ia memutuskan untuk nelfon keluarganya yang ada di Malaysia. Dan hari itu juga ia datang ke wartelku.
“ Nak.....! nak....!”
“ iya, siapa?” tanyaku.
“ ini Aku, Bu Arik.”
“ Ada perlu pa bu?!” tanyaku lagi
“bilang ya sama keluargaku, bahwa kirimannya sudah nyampek dan terima kasih banyak, dan kalau ada dikirimi lagi juga gak apa-apa!” jawab Bu Arik dengan suara semangat.
 saya tidak mengerti apa yang dimaksud Bu Arik. Dia perlu apa dan maunya apa. Aku sempat berfikir, kenapa dia tiba-tiba suru Aku untuk bilang sama keluarganya yang ada di Malaysia bahwa kirimannya sudah nyampek. Emangnya Aku kenal sama keluarganya?. Dan akhirnya aku balik bertanya
“ Maaf bu,! Aku tidak mengerti apa maksud ibu!”
“ kamu ini gimana sih, Aku kan sudah bilang kalau Aku mau nelfon dan nanti kamu yang ngomong, kalau semua kirimannya itu sudah nyampek. Ngerti kan?” jawab bu Arik dengan kasar.
“ oh!! Maksud Ibu, Ibu mau nelfon ya???, bilang dong dari tadi!. Jangan berbelit-belit gitu dong?!”
“ yeee......!!!! Aku kan sudah bilang dari tadi. Kamunya aja yang ga’ mengerti !, anak sekolah kok gak ngerti bahasanya nenek-nenek!”
Akupun tersipu malu mendengar ocehan bu Arik, lalu Aku bertanya
“ terus nomor telefonnya mana??”
Bu Arik kelihatannya agak sedikit bingung untuk menjawab pertanyaanku. Dan ia sempat bertanya,” lho emangnya......................” omongan Ibu Arik tersendat,
“ memangnya nelfon pakai nomor ya??”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bu Arik yang cukup aneh itu. mana ada orang nelfon tanpa nomer bisa sampek tujuan? dan apakah dari zaman dahulu sampai sekarang ada orang yang nelfon tanpa nomer bisa sampai tujuan dan jika ada tentunya bebas biaya dong?,....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar